RSS

Kategori Akut atau Kronik?

Mungkin orang sudah sering mendengar istilah akut dan kronik. Tapi apakah Anda telah memiliki pengertian yang benar mengenai kedua istilah tersebut? Saya terpikir untuk menulis mengenai kedua tulisan ini karena menemukan orang seringkali tertukar atau salah mengerti mengenai dua istilah ini.

Penyakit akut menunjuk pada penyakit yang timbul mendadak dan dalam jangka waktu pendek. Sedangkan penyakit kronis menunjuk pada penyakit yang berlangsung dalam jangka waktu lama, umumnya lebih dari tiga bulan. Kondisi di antara akut dan kronis, disebut dengan istilah subakut.

Istilah akut dan kronis tidak menunjukkan tingkat keparahan penyakit. Seringkali orang salah kaprah dan menggunakan istilah akut ataupun kronis untuk menunjukkan keparahan suatu penyakit. Walau demikian, seringkali dalam kondisi akut, pasien tampak lebih sakit parah dan kondisinya lebih buruk daripada pasien dengan penyakit kronis. Hal ini dikarenakan adanya mekanisme kompensasi tubuh. Di mana pada penyakit kronis, tubuh telah melakukan mekanisme kompensasi tersebut, sehingga umumnya kondisi dan keluhan pasien lebih baik daripada pasien yang dalam kondisi akut. Selain itu, penyakit kronis umumnya adalah penyakit-penyakit yang tidak menular (non-communicable disease), misalnya, kencing manis (diabetes), darah tinggi (hipertensi), ataupun keganasan (kanker).

Semoga bermanfaat.

 
Leave a comment

Posted by on February 10, 2012 in definition

 

Nyeri Pinggang (Low Back Pain)

Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan yang paling banyak ditemui. Sebagian besar yang mengeluhkan hal ini adalah orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas. Derajat keluhan nyeri mereka pun bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa bahkan mengeluhkan hingga tidak bisa berjalan karena nyeri yang sangat.

Sebenarnya mengapa seseorang bisa menderita nyeri pinggang? Nyeri pinggang dapat disebabkan beberapa hal. Mulai dari gangguan ginjal, susunan tulang belakang, hingga gangguan pada serabut saraf. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui persangkaan penyebabnya?

Pada nyeri pinggang yang disebabkan karena gangguan pada ginjal, umumnya nyerinya bersifat hilang timbul. Biasanya disertai pula dengan gangguan saat buang air kecil. Entah, terasa panas, bisa juga terasa nyeri. Namun, keluhan tersebut umumnya didapati bila gangguan pada ginjal disebabkan adanya infeksi. Gangguan pada tulang belakang dan saraf merupakan penyebab paling sering dari nyeri pinggang. Seringkali nyeri dirasakan saat berubah posisi dari duduk ke berdiri atau dari tidur ke duduk. Bila ada penjepitan pada serabut saraf, seringkali nyeri bertambah dan menjalar ke kedua kaki saat berjalan.

Bila nyeri pinggang disebabkan oleh gangguan pada tulang belakang ataupun saraf, pengobatannya akan lebih lama. Oleh karena itu, penderita perlu rutin kontrol. Selain itu, tindakan fisioterapi juga dapat membantu meringankan keluhan. Latihan ringan di rumah dan memperbaiki posisi duduk juga pada umumnya membantu mengurangi nyeri. Perbaikan posisi duduk dan posisi tubuh saat mengangkat benda berat juga penting untuk mengurangi resiko terjadinya gangguan pada tulang belakang ataupun penjepitan pada serabut saraf.

 
Leave a comment

Posted by on January 31, 2012 in chronic disease, prevention, therapy

 

Mengapa Harus Minum Obat?

Pertanyaan ini mungkin kerap muncul di pikiran pasien-pasien dengan penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka lama atau bahkan seumur hidup, seperti Diabetes atau kencing manis dan hipertensi atau darah tinggi. Kapan mereka boleh berhenti minum obat? Mengapa obat itu harus diminum sementara tekanan darah atau gula darah mereka sudah terkontrol?

Saya sering mendapati penderita penyakit-penyakit kronis memiliki kepatuhan berobat yang kurang. Saya mengerti, tidak mudah menjadi orang sakit. Tidak mudah setiap hari harus menelan obat sebelum memulai aktivitas. Dari segi biaya pun, mereka jadi harus menyediakan dana khusus untuk membeli obat -bagi mereka yang tidak menggunakan layanan AsKes ataupun Jamkesmas- Sebagai contoh, seorang penderita TB membutuhkan jangka waktu minimal enam bulan dan memiliki kewajiban kontrol tiap bulan untuk mengambil obat. Selama jangka waktu enam bulan itu, dia wajib mengkonsumsi obat setiap hari. Walau sekarang digunakan fixed drug combination, sebenarnya mereka tetap harus siap menghadapi munculnya efek samping dari empat macam kandungan obat di dalamnya. Seringkali pasien berhenti berobat di tengah jalan karena lelah dengan lamanya pengobatan atau karena merasa berat badannya mulai naik dan keluhan batuknya membaik, dia memutuskan berhenti berobat. Seandainya pasien itu tahu, berapa banyak jumlah obat yang harus diminumnya ketika ia jatuh dalam kondisi MDR-TB (Multidrug Resistent Tuberculosis), saya yakin dia akan memilih berobat dan kontrol secara teratur.

Saya tidak bisa menyalahkan ketidakpatuhan pasien semata-mata karena faktor dari mereka saja. Namun, mungkin ada faktor kurangnya penjelasan dari dokter yang merawatnya. Karena merasa pasiennya banyak, si dokter enggan membuang waktunya hanya untuk menjelaskan efek samping dan penyulit yang mungkin timbul bila pasien tidak patuh berobat. Mungkin juga budaya masyarakat yang terlalu menjunjung tinggi asa kesungkanan, membuat pasien enggan bertanya ketika belum mengerti. Mereka hanya mengangguk dan iya-iya saja ketika dokter memberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya dan mengapa mereka harus meminum obatnya secara rutin.

Saya ingin memberikan gambaran sedikit mengapa penyakit kronis memerlukan disiplin tinggi dari penderitanya. Diabetes dan hipertensi merupakan penyakit kronis yang jamak didapatkan di masyarakat. Ketika seseorang didiagnosis mengidap diabetes ataupun hipertensi, ada dua hal yang perlu mereka pahami. Pertama, jika kadar gula darah ataupun tekanan darahnya masih dalam batas ambang, hal tersebut masih bisa diupayakan perbaikan dengan modifikasi gaya hidup. Ini berarti mereka harus mau berjanji pada diri sendiri untuk menjaga pola hidup, pola makan, dan berolahraga secara teratur. Kedua, jika mereka harus menggunakan obat untuk mengendalikan gula darah ataupun tekanan darahnya, pengobatan ini bersifat seumur hidup. Hal ini berarti mereka harus meminum obatnya setiap hari walaupun gula darah atau tekanan darahnya sudah mencapai target. Mengapa? Apakah supaya si dokter tetap mendapat sekian persen dari pabrik obat? Saya katakan itu pikiran yang picik dan menyudutkan profesi dokter.

Penderita perlu tetap mengkonsumsi obatnya untuk mempertahankan agar target tersebut tetap tercapai. Target ini penting dipertahankan untuk menghindari penyulit yang lebih lanjut. Saya bukan ingin menakut-nakuti, tetapi itulah yang sering saya dapati. Penderita kerap memutuskan berhenti berobat sendiri karena merasa dirinya sudah sembuh. Apa ukuran kesembuhan mereka? Ketika gula darah ataupun tekanan darahnya mereka anggap normal. Padahal untuk penyakit kronis semacam itu, pencegahan timbulnya penyulit merupakan salah satu target utama pengobatan.

Pengobatan kedua penyakit ini tidak sesederhana itu. Banyaknya organ tubuh yang mungkin menjadi korban dalam perjalanan penyakitnya membuat penderita perlu kontrol rutin dan patuh dalam meminum obatnya. Obat anti hipertensi akan membatnu menjaga kualitas endotel pembuluh darah, agar lebih lanjut tidak berakibat pada serangan stroke. Dengan mengontrol gula darah dan tekanan darah, organ ginjal yang sering menjadi korban utama kedua penyakit ini akan terlindungi. Setidaknya kepatuhan pengobatan akan membantu pasien terhindar dari ancaman gagal ginjal yang mengharuskan mereka melakukan hemodialisis atau cuci darah secara rutin.

Ketika seseorang mengidap diabetes ataupun hipertensi, mereka perlu menyadari bahwa dirinya rentan mengidap penyakit-penyakit yang lain. Kualitas pembuluh darah yang jelek, kemungkinan rusaknya sistem saraf tepi yang menimbulkan sensasi tebal ataupun kesemutan, hingga resiko menderita gagal jantung. Oleh karena itu, jangan memutuskan berhenti minum obat sekehendak hati. Lebih baik Anda membicarakan hal tersebut dengan dokter yang merawat Anda jika memang didapatkan keluhan selama mengkonsumsi obat. Anggaplah dokter sebagai partner Anda untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

 

Salisilat Derivat, Harapan Baru Diabetes

Dari sebuah studi menunjukkan bahwa salsalate yang merupakan prodrug salisilat, dapat menururnkan HbA1c serta memperbaiki resiko metabolik dan koroner pada pasien diabetes tipe 2. Namun, keamanannya terhadap fungsi ginjal masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dari studi tersebut, dikatakan salsalate menimbulkan keluhan gastrointestinal yang lebih sedikit dibandingkan dengan aspirin. Lebih lanjut lagi, dalam dosis tinggi, obat ini mampu menurunkan glukosuria dan menurunkan glukosa darah pada pasien diabetes yang berusia lanjut.

Studi yang dilakukan multisenter ini menggunakan salsalate dengan dosis 3; 3,5; dan 4 g/hari selama 14 minggu. Masing-masing dosis diberikan pada satu kelompok yang terdiri dari 27 subyek penelitian serta dibandingkan dengan satu kelompok yang diberi plasebo. Dari hasil studi eksperimental tersebut, didapatkan bahwa kelompok studi yang mendapat salsalate mengalami penurunan HbA1c lebih dari 0,5%. Selain itu, pada kelompok tersebut didapatkan juga perbaikan pada kadar glukosa puasa, albumin glycated, insulin, adiponektin, dan trigliserida.

Namun, demikian, pada pemberian salsalate ini perlu diperhatikan juga mengenai resiko terjadinya hipoglikemia dan adanya keluhan tinitus yang muncul pada beberapa subyek studi. Lebih lanjut lagi, penggunaan salsalate tampaknya masih memerlukan studi lebih lanjut untuk digunakan secara masal.

 
 

Skizofrenia

Skizofrenia, telinga awam tentu asing dengan istilah ini. Namun coba kita ganti dengan kata gila atau kurang waras, jelas semua orang mengerti apa yang kita maksud.

Gelandangan yang sering dijumpai di jalanan, tanpa pakaian dan berkomat-kamit sendiri merupakan salah satu contoh pengidap skizofrenia. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua yang disebut “gila” ini tidak bisa disembuhkan?

Skizofrenia sendiri memiliki empat tipe, skizofrenia katatonik, skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, dan skizofrenia simpleks. Di antara keempatnya, skizofrenia katatonik merupakan skizofrenia dengan prognosis atau keberhasilan terapi yang paling baik. Sementara gelandangan yang jamak kita temui di jalanan merupakan salah satu contoh skizofrenia simpleks.

Masing-masing skizofrenia ini ditandai dengan gejala yang paling menonjol. Pada skizofrenia katatonik, gelaja psikomotorlah yang menonjol, penderita umumnya tampak gaduh gelisah atau justru keaktivan motoriknya menurun (katalepsi, fleksibilitas cerea). Sementara pada skizofrenia paranoid, gejala waham dan halusinasinya begitu menonjol. Skizofrenia hebefrenik ditandai dengan gerakan-gerakan stereotipi (gerakan berulang yang tak bertujuan) dan disorganisasi pikiran yang menonjol, sedangkan skizofrenia simpleks ditandai dengan kemauan yang menurun (terutama kemauan untuk perawatan diri).

Beberapa faktor mempengaruhi tingkat keberhasilan terapi pada masing-masing skizofrenia tersebut. Mulai dari usia awal timbulnya gangguan hingga kualitas dukungan dari keluarga. Oleh karena itu, perlu kita ingat, janganlah mengecap orang dengan sebutan gila, mereka masih memiliki pengharapan untuk sembuh dan beraktivitas seperti orang sehat yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2010 in definition, illness, medicine

 

Emergency

Kapan suatu keadaan dikatakan gawat? Kondisi gawat darurat yang saya maksudkan di sini adalah kondisi yang mengancam jiwa. Mengapa saya menuliskan hal ini? Karena beberapa kali saya mendapati keluarga pasien seringkali tidak mengerti mana kondisi yang gawat dan mana yang tidak. Sebenarnya hal ini sangat manusiawi karena orang seringkali menjadi panik dalam kondisi gawat. Namun, alangkah baiknya jika yang awam pun mampu memahami dan melakukan sesuatu untuk sesamanya.

Dalam penanganan gawat darurat dikenal istilah basic life support (BLS), yang dalam penganannya mengikuti algoritma ABC (Airway- Breathing- Circulation) – Disability – Exposure. Hal ini disusun sesuai dengan tingkat kegawatannya – seberapa cepat hal tersebut dapat mengakibatkan kematian- dan kita mengikuti algoritma tersebut dalam penanganannya.

Sebagai awam, saya kira cukuplah mengerti sampai sebatas ABC. Pada awal sebenarnya perlu dilakukan pengecekan kesadaran secara cepat dengan metode AVPU, namun sebagai awam mungkin akan lebih baik jika dapat memberikan respons bantuan secara cepat, daripada bingung memikirkan tingkat kesadaran yang mana. Berikut saya cantumkan hal-hal yang perlu diwaspadai sebagai gangguan yang mengancam jiwa, terutama pada orang dengan riwayat trauma (misalnya: kecelakaan, jatuh dari pohon, dsb):

a. Airway; waspada jika Anda mendengar suara mendengkur, suara seperti orang berkumur, atau suara melengking atau parau/serak, atau bahkan Anda tidak melihat adanya gerakan pernapasan, atau tidak ada hawa napas yang keluar dari hidung dan atau mulut. Hal ini menandakan ada hambatan pada jalan napas. Sumbatan jalan napas ini dapat mengakibatkan kematian dalam 3 – 5 menit. Jika ada suara mendengkur, dorong dagu ke atas (chin lift) , atau dahi ke belakang (head tilt) dengan hati-hati, pertahankan jika suara mendengkur hilang; periksa juga apakah ada benda asing di dalam mulut yang mungkin menyumbat jalan napas. Jika Anda mendengar suara berkumur, periksa mulut penderita, jika ada darah, bersihkan dengan kain atau kassa (jangan menggunakan tissue).

b. Breathing; waspada jika Anda melihat luka pada daerah dada, melihat gerak dada yang tidak sama, orang yang terlihat susah bernapas, ataupun tersengal-sengal. Gangguan pada airway dapat mengakibatkan gangguan pada breathing.

c. Circulation, waspada jika telapak tangan penderita teraba dingin dan basah, serta terlihat pucat, nadi (raba pada pergelangan tangan pada sisi yang sama dengan ibu jari) teraba cepat, lebih dari 100x/menit, atau jika Anda mendapati tidak ada gerakan pernapasan pada penderita. Perhatikan juga apakah ada luka-luka dengan perdarahan hebat. Jika ada perdarahan hebat, usahakan untuk menekan dan menutup luka tersebut untuk membantu mengurangi laju perdarahan. Jika Anda menjumpai penderita tanpa gerakan pernapasan, Anda dapat mulai melakukan pijat jantung. Pijat jantung dilakukan pada tengah dada, dengan cepat (kurang lebih 100x/menit, kuat, dan dalam.

Cara untuk melakukan head tilt dan chin lift, serta posisi untuk melakukan pijat jantung dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Perlu diingat pula, jika penderita merupakan korban kecelakaan, jangan sembarangan memindahkan korban. Usahakan untuk menjaga agar tulang leher tidak banyak bergerak, terutama bila terlihat luka-luka di atas bahu, leher, dan kepala. Jangan lupa pula untuk segera memanggil bantuan. Anda dapat menelepon 118 untuk memanggil ambulans. Ketika menelepon, sebutkan jumlah penderita, jumlah penolong, kondisi penderita, apa yang sudah Anda lakukan, dan di mana lokasi kejadian.

Semoga bermanfaat.

 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2010 in acute disease, medicine, therapy

 

Vaksin HPV

HPV atau Human Papilloma Virus menjadi terkenal sesaat ketika orang dihebohkan dengan kasus manusia akar. Kasus tersebut secara medis terbukti disebabkan oleh infeksi HPV ini. Selain kasus manusia akar, sebenarnya HPV memegang peranan yang tinggi sebagai salah satu penyebab kematian pada wanita, yaitu memicu terjadinya kanker serviks (mulut rahim).

Kanker serviks atau kanker mulut rahim dipicu oleh HPV tipe 16 dan 18. Sedangkan pada kaum pria, tipe virus yang sama dapat memicu terjadinya Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada penis. Tipe ini berbeda dengan penyebab kasus manusia akar tersebut, kasus manusia akar disebabkan oleh HPV tipe lain yang secara khusus lebih sering menyerang kulit.

Selain menyebabkan kanker serviks, SCC, dan pertumbuhan abnormal pada kulit, HPV ini merupakan penyebab terjadinya penyakit infeksi menular seksual yang dikenal dengan condylomata akuminata. Condylomata akuminata ini disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. HPV sendiri memiliki banyak tipe, yang belum semuanya mampu dihubungkan dengan jenis penyakit tertentu. Namun, saat ini yang mendapat perhatian khusus adalah HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Hal ini dikarenakan keempat strain tersebut memiliki peran dalam kejadian condyloma dan kanker serviks yang memiliki angka kejadian cukup tinggi.

Saat ini sebagai tindakan pencegahan terhadap kanker serviks, selain disarankan rutin melakukan pap smear bagi wanita yang seksual aktif, juga disarankan melakukan vaksinasi HPV. Untuk vaksinasi HPV, akan lebih baik jika dilakukan pada wanita yang belum aktif secara seksual, namun tidak berarti tidak bermanfaat bagi mereka yang telah aktif secara seksual. Bentuk vaksin yang tersedia saat ini adalah bivalen (2 tipe HPV) dan quadrivalen (4 tipe HPV), bentuk quadrivalen lebih disarankan karena juga memberikan prroteksi terhadap HPV tipe 6 dan 11.

Jangan pula menganggap remeh condyloma sebagai infeksi menular seksual biasa karena berdasarkan sebuah penelitian yang saya baca, condyloma saat ini ditemukan terbanyak disebabkan oleh HPV tipe 16, yang merupakan salah satu tipe penyebab terjadinya kanker serviks. Oleh karena itu, mari mencegah bersama. Carilah informasi di mana Anda dapat melakukan vaksinasi terdekat dan silahkan melakukan pap smear jika Anda seksual aktif.