RSS

Mengapa Harus Minum Obat?

28 Aug

Pertanyaan ini mungkin kerap muncul di pikiran pasien-pasien dengan penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka lama atau bahkan seumur hidup, seperti Diabetes atau kencing manis dan hipertensi atau darah tinggi. Kapan mereka boleh berhenti minum obat? Mengapa obat itu harus diminum sementara tekanan darah atau gula darah mereka sudah terkontrol?

Saya sering mendapati penderita penyakit-penyakit kronis memiliki kepatuhan berobat yang kurang. Saya mengerti, tidak mudah menjadi orang sakit. Tidak mudah setiap hari harus menelan obat sebelum memulai aktivitas. Dari segi biaya pun, mereka jadi harus menyediakan dana khusus untuk membeli obat -bagi mereka yang tidak menggunakan layanan AsKesĀ ataupunĀ Jamkesmas- Sebagai contoh, seorang penderita TB membutuhkan jangka waktu minimal enam bulan dan memiliki kewajiban kontrol tiap bulan untuk mengambil obat. Selama jangka waktu enam bulan itu, dia wajib mengkonsumsi obat setiap hari. Walau sekarang digunakan fixed drug combination, sebenarnya mereka tetap harus siap menghadapi munculnya efek samping dari empat macam kandungan obat di dalamnya. Seringkali pasien berhenti berobat di tengah jalan karena lelah dengan lamanya pengobatan atau karena merasa berat badannya mulai naik dan keluhan batuknya membaik, dia memutuskan berhenti berobat. Seandainya pasien itu tahu, berapa banyak jumlah obat yang harus diminumnya ketika ia jatuh dalam kondisi MDR-TB (Multidrug Resistent Tuberculosis), saya yakin dia akan memilih berobat dan kontrol secara teratur.

Saya tidak bisa menyalahkan ketidakpatuhan pasien semata-mata karena faktor dari mereka saja. Namun, mungkin ada faktor kurangnya penjelasan dari dokter yang merawatnya. Karena merasa pasiennya banyak, si dokter enggan membuang waktunya hanya untuk menjelaskan efek samping dan penyulit yang mungkin timbul bila pasien tidak patuh berobat. Mungkin juga budaya masyarakat yang terlalu menjunjung tinggi asa kesungkanan, membuat pasien enggan bertanya ketika belum mengerti. Mereka hanya mengangguk dan iya-iya saja ketika dokter memberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya dan mengapa mereka harus meminum obatnya secara rutin.

Saya ingin memberikan gambaran sedikit mengapa penyakit kronis memerlukan disiplin tinggi dari penderitanya. Diabetes dan hipertensi merupakan penyakit kronis yang jamak didapatkan di masyarakat. Ketika seseorang didiagnosis mengidap diabetes ataupun hipertensi, ada dua hal yang perlu mereka pahami. Pertama, jika kadar gula darah ataupun tekanan darahnya masih dalam batas ambang, hal tersebut masih bisa diupayakan perbaikan dengan modifikasi gaya hidup. Ini berarti mereka harus mau berjanji pada diri sendiri untuk menjaga pola hidup, pola makan, dan berolahraga secara teratur. Kedua, jika mereka harus menggunakan obat untuk mengendalikan gula darah ataupun tekanan darahnya, pengobatan ini bersifat seumur hidup. Hal ini berarti mereka harus meminum obatnya setiap hari walaupun gula darah atau tekanan darahnya sudah mencapai target. Mengapa? Apakah supaya si dokter tetap mendapat sekian persen dariĀ pabrik obat? Saya katakan itu pikiran yang picik dan menyudutkan profesi dokter.

Penderita perlu tetap mengkonsumsi obatnya untuk mempertahankan agar target tersebut tetap tercapai. Target ini penting dipertahankan untuk menghindari penyulit yang lebih lanjut. Saya bukan ingin menakut-nakuti, tetapi itulah yang sering saya dapati. Penderita kerap memutuskan berhenti berobat sendiri karena merasa dirinya sudah sembuh. Apa ukuran kesembuhan mereka? Ketika gula darah ataupun tekanan darahnya mereka anggap normal. Padahal untuk penyakit kronis semacam itu, pencegahan timbulnya penyulit merupakan salah satu target utama pengobatan.

Pengobatan kedua penyakit ini tidak sesederhana itu. Banyaknya organ tubuh yang mungkin menjadi korban dalam perjalanan penyakitnya membuat penderita perlu kontrol rutin dan patuh dalam meminum obatnya. Obat anti hipertensi akan membatnu menjaga kualitas endotel pembuluh darah, agar lebih lanjut tidak berakibat pada serangan stroke. Dengan mengontrol gula darah dan tekanan darah, organ ginjal yang sering menjadi korban utama kedua penyakit ini akan terlindungi. Setidaknya kepatuhan pengobatan akan membantu pasien terhindar dari ancaman gagal ginjal yang mengharuskan mereka melakukan hemodialisis atau cuci darah secara rutin.

Ketika seseorang mengidap diabetes ataupun hipertensi, mereka perlu menyadari bahwa dirinya rentan mengidap penyakit-penyakit yang lain. Kualitas pembuluh darah yang jelek, kemungkinan rusaknya sistem saraf tepi yang menimbulkan sensasi tebal ataupun kesemutan, hingga resiko menderita gagal jantung. Oleh karena itu, jangan memutuskan berhenti minum obat sekehendak hati. Lebih baik Anda membicarakan hal tersebut dengan dokter yang merawat Anda jika memang didapatkan keluhan selama mengkonsumsi obat. Anggaplah dokter sebagai partner Anda untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: