Skizofrenia, telinga awam tentu asing dengan istilah ini. Namun coba kita ganti dengan kata gila atau kurang waras, jelas semua orang mengerti apa yang kita maksud.
Gelandangan yang sering dijumpai di jalanan, tanpa pakaian dan berkomat-kamit sendiri merupakan salah satu contoh pengidap skizofrenia. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua yang disebut “gila” ini tidak bisa disembuhkan?
Skizofrenia sendiri memiliki empat tipe, skizofrenia katatonik, skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, dan skizofrenia simpleks. Di antara keempatnya, skizofrenia katatonik merupakan skizofrenia dengan prognosis atau keberhasilan terapi yang paling baik. Sementara gelandangan yang jamak kita temui di jalanan merupakan salah satu contoh skizofrenia simpleks.
Masing-masing skizofrenia ini ditandai dengan gejala yang paling menonjol. Pada skizofrenia katatonik, gelaja psikomotorlah yang menonjol, penderita umumnya tampak gaduh gelisah atau justru keaktivan motoriknya menurun (katalepsi, fleksibilitas cerea). Sementara pada skizofrenia paranoid, gejala waham dan halusinasinya begitu menonjol. Skizofrenia hebefrenik ditandai dengan gerakan-gerakan stereotipi (gerakan berulang yang tak bertujuan) dan disorganisasi pikiran yang menonjol, sedangkan skizofrenia simpleks ditandai dengan kemauan yang menurun (terutama kemauan untuk perawatan diri).
Beberapa faktor mempengaruhi tingkat keberhasilan terapi pada masing-masing skizofrenia tersebut. Mulai dari usia awal timbulnya gangguan hingga kualitas dukungan dari keluarga. Oleh karena itu, perlu kita ingat, janganlah mengecap orang dengan sebutan gila, mereka masih memiliki pengharapan untuk sembuh dan beraktivitas seperti orang sehat yang lain.