RSS

Mengapa Harus Minum Obat?

Pertanyaan ini mungkin kerap muncul di pikiran pasien-pasien dengan penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka lama atau bahkan seumur hidup, seperti Diabetes atau kencing manis dan hipertensi atau darah tinggi. Kapan mereka boleh berhenti minum obat? Mengapa obat itu harus diminum sementara tekanan darah atau gula darah mereka sudah terkontrol?

Saya sering mendapati penderita penyakit-penyakit kronis memiliki kepatuhan berobat yang kurang. Saya mengerti, tidak mudah menjadi orang sakit. Tidak mudah setiap hari harus menelan obat sebelum memulai aktivitas. Dari segi biaya pun, mereka jadi harus menyediakan dana khusus untuk membeli obat -bagi mereka yang tidak menggunakan layanan AsKes ataupun Jamkesmas- Sebagai contoh, seorang penderita TB membutuhkan jangka waktu minimal enam bulan dan memiliki kewajiban kontrol tiap bulan untuk mengambil obat. Selama jangka waktu enam bulan itu, dia wajib mengkonsumsi obat setiap hari. Walau sekarang digunakan fixed drug combination, sebenarnya mereka tetap harus siap menghadapi munculnya efek samping dari empat macam kandungan obat di dalamnya. Seringkali pasien berhenti berobat di tengah jalan karena lelah dengan lamanya pengobatan atau karena merasa berat badannya mulai naik dan keluhan batuknya membaik, dia memutuskan berhenti berobat. Seandainya pasien itu tahu, berapa banyak jumlah obat yang harus diminumnya ketika ia jatuh dalam kondisi MDR-TB (Multidrug Resistent Tuberculosis), saya yakin dia akan memilih berobat dan kontrol secara teratur.

Saya tidak bisa menyalahkan ketidakpatuhan pasien semata-mata karena faktor dari mereka saja. Namun, mungkin ada faktor kurangnya penjelasan dari dokter yang merawatnya. Karena merasa pasiennya banyak, si dokter enggan membuang waktunya hanya untuk menjelaskan efek samping dan penyulit yang mungkin timbul bila pasien tidak patuh berobat. Mungkin juga budaya masyarakat yang terlalu menjunjung tinggi asa kesungkanan, membuat pasien enggan bertanya ketika belum mengerti. Mereka hanya mengangguk dan iya-iya saja ketika dokter memberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya dan mengapa mereka harus meminum obatnya secara rutin.

Saya ingin memberikan gambaran sedikit mengapa penyakit kronis memerlukan disiplin tinggi dari penderitanya. Diabetes dan hipertensi merupakan penyakit kronis yang jamak didapatkan di masyarakat. Ketika seseorang didiagnosis mengidap diabetes ataupun hipertensi, ada dua hal yang perlu mereka pahami. Pertama, jika kadar gula darah ataupun tekanan darahnya masih dalam batas ambang, hal tersebut masih bisa diupayakan perbaikan dengan modifikasi gaya hidup. Ini berarti mereka harus mau berjanji pada diri sendiri untuk menjaga pola hidup, pola makan, dan berolahraga secara teratur. Kedua, jika mereka harus menggunakan obat untuk mengendalikan gula darah ataupun tekanan darahnya, pengobatan ini bersifat seumur hidup. Hal ini berarti mereka harus meminum obatnya setiap hari walaupun gula darah atau tekanan darahnya sudah mencapai target. Mengapa? Apakah supaya si dokter tetap mendapat sekian persen dari pabrik obat? Saya katakan itu pikiran yang picik dan menyudutkan profesi dokter.

Penderita perlu tetap mengkonsumsi obatnya untuk mempertahankan agar target tersebut tetap tercapai. Target ini penting dipertahankan untuk menghindari penyulit yang lebih lanjut. Saya bukan ingin menakut-nakuti, tetapi itulah yang sering saya dapati. Penderita kerap memutuskan berhenti berobat sendiri karena merasa dirinya sudah sembuh. Apa ukuran kesembuhan mereka? Ketika gula darah ataupun tekanan darahnya mereka anggap normal. Padahal untuk penyakit kronis semacam itu, pencegahan timbulnya penyulit merupakan salah satu target utama pengobatan.

Pengobatan kedua penyakit ini tidak sesederhana itu. Banyaknya organ tubuh yang mungkin menjadi korban dalam perjalanan penyakitnya membuat penderita perlu kontrol rutin dan patuh dalam meminum obatnya. Obat anti hipertensi akan membatnu menjaga kualitas endotel pembuluh darah, agar lebih lanjut tidak berakibat pada serangan stroke. Dengan mengontrol gula darah dan tekanan darah, organ ginjal yang sering menjadi korban utama kedua penyakit ini akan terlindungi. Setidaknya kepatuhan pengobatan akan membantu pasien terhindar dari ancaman gagal ginjal yang mengharuskan mereka melakukan hemodialisis atau cuci darah secara rutin.

Ketika seseorang mengidap diabetes ataupun hipertensi, mereka perlu menyadari bahwa dirinya rentan mengidap penyakit-penyakit yang lain. Kualitas pembuluh darah yang jelek, kemungkinan rusaknya sistem saraf tepi yang menimbulkan sensasi tebal ataupun kesemutan, hingga resiko menderita gagal jantung. Oleh karena itu, jangan memutuskan berhenti minum obat sekehendak hati. Lebih baik Anda membicarakan hal tersebut dengan dokter yang merawat Anda jika memang didapatkan keluhan selama mengkonsumsi obat. Anggaplah dokter sebagai partner Anda untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

 

Salisilat Derivat, Harapan Baru Diabetes

Dari sebuah studi menunjukkan bahwa salsalate yang merupakan prodrug salisilat, dapat menururnkan HbA1c serta memperbaiki resiko metabolik dan koroner pada pasien diabetes tipe 2. Namun, keamanannya terhadap fungsi ginjal masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dari studi tersebut, dikatakan salsalate menimbulkan keluhan gastrointestinal yang lebih sedikit dibandingkan dengan aspirin. Lebih lanjut lagi, dalam dosis tinggi, obat ini mampu menurunkan glukosuria dan menurunkan glukosa darah pada pasien diabetes yang berusia lanjut.

Studi yang dilakukan multisenter ini menggunakan salsalate dengan dosis 3; 3,5; dan 4 g/hari selama 14 minggu. Masing-masing dosis diberikan pada satu kelompok yang terdiri dari 27 subyek penelitian serta dibandingkan dengan satu kelompok yang diberi plasebo. Dari hasil studi eksperimental tersebut, didapatkan bahwa kelompok studi yang mendapat salsalate mengalami penurunan HbA1c lebih dari 0,5%. Selain itu, pada kelompok tersebut didapatkan juga perbaikan pada kadar glukosa puasa, albumin glycated, insulin, adiponektin, dan trigliserida.

Namun, demikian, pada pemberian salsalate ini perlu diperhatikan juga mengenai resiko terjadinya hipoglikemia dan adanya keluhan tinitus yang muncul pada beberapa subyek studi. Lebih lanjut lagi, penggunaan salsalate tampaknya masih memerlukan studi lebih lanjut untuk digunakan secara masal.

 
 

Skizofrenia

Skizofrenia, telinga awam tentu asing dengan istilah ini. Namun coba kita ganti dengan kata gila atau kurang waras, jelas semua orang mengerti apa yang kita maksud.

Gelandangan yang sering dijumpai di jalanan, tanpa pakaian dan berkomat-kamit sendiri merupakan salah satu contoh pengidap skizofrenia. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua yang disebut “gila” ini tidak bisa disembuhkan?

Skizofrenia sendiri memiliki empat tipe, skizofrenia katatonik, skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, dan skizofrenia simpleks. Di antara keempatnya, skizofrenia katatonik merupakan skizofrenia dengan prognosis atau keberhasilan terapi yang paling baik. Sementara gelandangan yang jamak kita temui di jalanan merupakan salah satu contoh skizofrenia simpleks.

Masing-masing skizofrenia ini ditandai dengan gejala yang paling menonjol. Pada skizofrenia katatonik, gelaja psikomotorlah yang menonjol, penderita umumnya tampak gaduh gelisah atau justru keaktivan motoriknya menurun (katalepsi, fleksibilitas cerea). Sementara pada skizofrenia paranoid, gejala waham dan halusinasinya begitu menonjol. Skizofrenia hebefrenik ditandai dengan gerakan-gerakan stereotipi (gerakan berulang yang tak bertujuan) dan disorganisasi pikiran yang menonjol, sedangkan skizofrenia simpleks ditandai dengan kemauan yang menurun (terutama kemauan untuk perawatan diri).

Beberapa faktor mempengaruhi tingkat keberhasilan terapi pada masing-masing skizofrenia tersebut. Mulai dari usia awal timbulnya gangguan hingga kualitas dukungan dari keluarga. Oleh karena itu, perlu kita ingat, janganlah mengecap orang dengan sebutan gila, mereka masih memiliki pengharapan untuk sembuh dan beraktivitas seperti orang sehat yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2010 in definition, illness, medicine

 

Emergency

Kapan suatu keadaan dikatakan gawat? Kondisi gawat darurat yang saya maksudkan di sini adalah kondisi yang mengancam jiwa. Mengapa saya menuliskan hal ini? Karena beberapa kali saya mendapati keluarga pasien seringkali tidak mengerti mana kondisi yang gawat dan mana yang tidak. Sebenarnya hal ini sangat manusiawi karena orang seringkali menjadi panik dalam kondisi gawat. Namun, alangkah baiknya jika yang awam pun mampu memahami dan melakukan sesuatu untuk sesamanya.

Dalam penanganan gawat darurat dikenal istilah basic life support (BLS), yang dalam penganannya mengikuti algoritma ABC (Airway- Breathing- Circulation) – Disability – Exposure. Hal ini disusun sesuai dengan tingkat kegawatannya – seberapa cepat hal tersebut dapat mengakibatkan kematian- dan kita mengikuti algoritma tersebut dalam penanganannya.

Sebagai awam, saya kira cukuplah mengerti sampai sebatas ABC. Pada awal sebenarnya perlu dilakukan pengecekan kesadaran secara cepat dengan metode AVPU, namun sebagai awam mungkin akan lebih baik jika dapat memberikan respons bantuan secara cepat, daripada bingung memikirkan tingkat kesadaran yang mana. Berikut saya cantumkan hal-hal yang perlu diwaspadai sebagai gangguan yang mengancam jiwa, terutama pada orang dengan riwayat trauma (misalnya: kecelakaan, jatuh dari pohon, dsb):

a. Airway; waspada jika Anda mendengar suara mendengkur, suara seperti orang berkumur, atau suara melengking atau parau/serak, atau bahkan Anda tidak melihat adanya gerakan pernapasan, atau tidak ada hawa napas yang keluar dari hidung dan atau mulut. Hal ini menandakan ada hambatan pada jalan napas. Sumbatan jalan napas ini dapat mengakibatkan kematian dalam 3 – 5 menit. Jika ada suara mendengkur, dorong dagu ke atas (chin lift) , atau dahi ke belakang (head tilt) dengan hati-hati, pertahankan jika suara mendengkur hilang; periksa juga apakah ada benda asing di dalam mulut yang mungkin menyumbat jalan napas. Jika Anda mendengar suara berkumur, periksa mulut penderita, jika ada darah, bersihkan dengan kain atau kassa (jangan menggunakan tissue).

b. Breathing; waspada jika Anda melihat luka pada daerah dada, melihat gerak dada yang tidak sama, orang yang terlihat susah bernapas, ataupun tersengal-sengal. Gangguan pada airway dapat mengakibatkan gangguan pada breathing.

c. Circulation, waspada jika telapak tangan penderita teraba dingin dan basah, serta terlihat pucat, nadi (raba pada pergelangan tangan pada sisi yang sama dengan ibu jari) teraba cepat, lebih dari 100x/menit, atau jika Anda mendapati tidak ada gerakan pernapasan pada penderita. Perhatikan juga apakah ada luka-luka dengan perdarahan hebat. Jika ada perdarahan hebat, usahakan untuk menekan dan menutup luka tersebut untuk membantu mengurangi laju perdarahan. Jika Anda menjumpai penderita tanpa gerakan pernapasan, Anda dapat mulai melakukan pijat jantung. Pijat jantung dilakukan pada tengah dada, dengan cepat (kurang lebih 100x/menit, kuat, dan dalam.

Cara untuk melakukan head tilt dan chin lift, serta posisi untuk melakukan pijat jantung dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Perlu diingat pula, jika penderita merupakan korban kecelakaan, jangan sembarangan memindahkan korban. Usahakan untuk menjaga agar tulang leher tidak banyak bergerak, terutama bila terlihat luka-luka di atas bahu, leher, dan kepala. Jangan lupa pula untuk segera memanggil bantuan. Anda dapat menelepon 118 untuk memanggil ambulans. Ketika menelepon, sebutkan jumlah penderita, jumlah penolong, kondisi penderita, apa yang sudah Anda lakukan, dan di mana lokasi kejadian.

Semoga bermanfaat.

 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2010 in acute disease, medicine, therapy

 

Vaksin HPV

HPV atau Human Papilloma Virus menjadi terkenal sesaat ketika orang dihebohkan dengan kasus manusia akar. Kasus tersebut secara medis terbukti disebabkan oleh infeksi HPV ini. Selain kasus manusia akar, sebenarnya HPV memegang peranan yang tinggi sebagai salah satu penyebab kematian pada wanita, yaitu memicu terjadinya kanker serviks (mulut rahim).

Kanker serviks atau kanker mulut rahim dipicu oleh HPV tipe 16 dan 18. Sedangkan pada kaum pria, tipe virus yang sama dapat memicu terjadinya Squamous Cell Carcinoma (SCC) pada penis. Tipe ini berbeda dengan penyebab kasus manusia akar tersebut, kasus manusia akar disebabkan oleh HPV tipe lain yang secara khusus lebih sering menyerang kulit.

Selain menyebabkan kanker serviks, SCC, dan pertumbuhan abnormal pada kulit, HPV ini merupakan penyebab terjadinya penyakit infeksi menular seksual yang dikenal dengan condylomata akuminata. Condylomata akuminata ini disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. HPV sendiri memiliki banyak tipe, yang belum semuanya mampu dihubungkan dengan jenis penyakit tertentu. Namun, saat ini yang mendapat perhatian khusus adalah HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Hal ini dikarenakan keempat strain tersebut memiliki peran dalam kejadian condyloma dan kanker serviks yang memiliki angka kejadian cukup tinggi.

Saat ini sebagai tindakan pencegahan terhadap kanker serviks, selain disarankan rutin melakukan pap smear bagi wanita yang seksual aktif, juga disarankan melakukan vaksinasi HPV. Untuk vaksinasi HPV, akan lebih baik jika dilakukan pada wanita yang belum aktif secara seksual, namun tidak berarti tidak bermanfaat bagi mereka yang telah aktif secara seksual. Bentuk vaksin yang tersedia saat ini adalah bivalen (2 tipe HPV) dan quadrivalen (4 tipe HPV), bentuk quadrivalen lebih disarankan karena juga memberikan prroteksi terhadap HPV tipe 6 dan 11.

Jangan pula menganggap remeh condyloma sebagai infeksi menular seksual biasa karena berdasarkan sebuah penelitian yang saya baca, condyloma saat ini ditemukan terbanyak disebabkan oleh HPV tipe 16, yang merupakan salah satu tipe penyebab terjadinya kanker serviks. Oleh karena itu, mari mencegah bersama. Carilah informasi di mana Anda dapat melakukan vaksinasi terdekat dan silahkan melakukan pap smear jika Anda seksual aktif.

 

Demam Berdarah atau Typhus?

Demam merupakan keluhan yang sering timbul pada penyakit. Sebenarnya demam merupakan reaksi tubuh atas masuknya benda asing ke dalam tubuh, misalnya virus atau bakteri, yang menandakan tubuh sedang berusaha memerangi serangan asing tersebut. Seseorang dikatakan demam jika suhunya lebih dari 37,5°C. Perlu diingat, bahwa demam merupakan suatu gejala, bukan suatu diagnosis penyakit. Oleh karena itu, demam perlu diketahui penyebabnya.

Upaya mengatasi demam dapat dilakukan dengan obat penurun panas, misalnya parasetamol (dengan berbagai merk dagang), dan juga kompres. Kompres merupakan tindakan sederhana yang sangat membantu dalam upaya menurunkan suhu tubuh. Tindakan kompres ini akan lebih efektif bila diletakkan pada dahi, lipatan ketiak, dan paha. Apabila demam terjadi pada anak-anak, terutama dengan riwayat kejang demam, upaya penurunan suhu tubuh harus dilakukan dengan segera untuk menghindari tercetusnya kejang.

Beberapa penyakit memiliki pola demam yang khas. Oleh karena saat ini kejadian demam berdarah dan typhus sedang meningkat, saya akan mencoba menjelaskan perbedaan pola demam dan keluhan penyertanya.

Pada infeksi virus dengue, didapatkan demam kurang dari 7 hari, dengan panas mendadak dan langsung tinggi. Biasanya demam akan turun dengan pemberian obat penurun panas kemudian naik lagi. Demam biasanya akan mulai turun pada hari ketiga dan kemudian akan naik lagi pada hari keenam. Bagaimana anda bisa mencurigai diri Anda mengidap demam berdarah? Biasanya selain keluhan demam seperti di atas, akan didaptkan keluhan nyeri otot, badan terasa sakit semua dan lemas. Selain itu didapatkan keluhan nyeri kepala yang hebat, biasanya dikeluhkan terasa sakit hingga ke belakang mata. Bisa didapatkan ruam pada kulit berupa bercak-bercak kemerahan yang merupakan salah satu tanda perdarahan. Kemudian biasanya didapatkan keluhan pencernaan, seperti mual, muntah, atau nyeri di ulu hati seperti keluhan penderita sakit maag. Waspadalah bila Anda juga mengalami mimisan, gusi berdarah, atau BAB berwarna hitam. Sebaiknya Anda segera menghubungi dokter terdekat dan menjalani pemeriksaan darah lengkap untuk memastikan diagnosis.

Sementara itu pada typhus, demam biasanya lebih lama (lebih dari 7 hari), dengan pola demam yang makin lama makin naik. Biasanya penderita juga mengeluhkan nyeri badan dan badan terasa lemas. Pada penderita typhus, keluhan yang berhubungan dengan pencernaan biasanya lebih menonjol, bisa berupa mual, muntah, kembung, nyeri ulu hati, diare, hingga tidak bisa BAB. Bila Anda mengalami keluhan seperti tersebut di atas, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter Anda untuk diagnosis lebih pasti.

Apakah Anda harus opname di rumah sakit? Hal tersebut bergantung pada kondisi sakit Anda. Apakah intake (makan-minum) Anda masih baik? Apakah ada tanda-tanda kegawatan saat itu?

Untuk demam berdarah, kondisi kegawatan ialah bila penderita jatuh dalam kondisi syok. Biasanya didapatkan tangan dan kaki menjadi dingin,pucat, dan basah; penderita lemas, sesak, nyeri kepala hebat hingga muntah-muntah atau jumlah trombosit terlalu rendah. Sedangkan pada typhus, penyulit yang dikhawatirkan ialah bila sampai terjadi perdarahan usus yang ditandai dengan nyeri hebat pada daerah perut. Bila kondisi Anda cukup stabil dan mampu mematuhi anjuran minum obat, diet (pada orang typhus dianjurkan mengkonsumsi makanan lunak dan rendah serat), serta bed rest, Anda dapat menjalani perawatan di rumah.

Kapan sebaiknya Anda ke dokter? Bila demam baru 1 hari, tentunya akan sulit memastikan penyakit apa yang Anda derita, hasil laboratorium pun mungkin belum menunjukkan kelainan. Oleh karena itu, Anda dapat memeriksakan diri ke dokter bila mengalami demam lebih dari tiga hari dan atau bila mendapati tanda-tanda perdarahan serta kegawatan yang sudah tersebutkan di atas.

Semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila ada kekurangan.

 
Leave a comment

Posted by on March 4, 2010 in definition, illness, medicine, therapy

 

Hipertensi

Pertanyaan paling umum yang sering diutarakan orang setelah diukur tekanan darahnya adalah, “Apakah tekanan darah saya normal?” Sebenarnya kapan seseorang dikatakan mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi?

Saat ini, klasifikasi yang digunakan untuk menyatakan derajat tekanan darah tinggi adalah klasifikasi menurut JNC (Joint National Committee) VII. Adapun klasifikasi tersebut sebagai berikut:

a. Normal, jika tekanan darah sistolik (TDS) < 120 mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD) < 80 mmHg.

b. pre hipertensi jika TDS 120 – 139 mmHg dan TDD 80- 89 mmHg.

c. Hipertensi stage I jika TDS 140 – 159 mmHg dan TDD 90 – 99 mmHg.

d. Hipertensi stage II jika TDS ≥ 160 mmHg dan TDD ≥ 100 mmHg.

Pada stadium pre hipertensi, dapat dilakukan perubahan gaya hidup (pola makan dan aktivitas) untuk menjaga agar tidak jatuh ke kondisi hipertensi. Sementara pada hipertensi stage I dan II diperlukan terapi farmakologi untuk mengontrol tekanan darah.

Perlu diingat bahwa target pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan morbiditas dan menghindari mortalitas. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara dokter dan pasien agar target tersebut dapat tercapai. Terutama menyangkut kepatuhan minum obat, pola diet, dan perubahan kebiasaan (misalnya merokok).

Pengendalian tekanan darah dengan modifikasi diet dan aktivitas, selain penggunaan terapi farmakologis, penting dalam tatalaksana hipertensi demi menghindari terjadinya penyulit atau komplikasi. Modifikasi yang dapat dilakukan, antara lain:

a. diet rendah garam karena Na akan mengikat air yang kemudian meningkatkan volume intravaskular sehingga meningkatkan tekanan darah. Batasan rendah garam di sini ialah < 6 gram/hari.

b.  Peningkatan aktivitas fisik (3 – 4 kali seminggu, dengan durasi @ 30 – 45 menit)

c. Menghentikan kebiasaan merokok

d. Mengatasi kelebihan berat badan dan obesitas

e. Mengurangi konsumsi alkohol

Penderita perlu memperhatikan kepatuhan minum obat dan kontrol secara teratur untuk mencapai target tekanan darah. Hal ini penting untuk melindungi fungsi target organ, terutama ginjal. Dengan demikian, diharapkan penderita tidak jatuh ke kondisi kidney disease. Selain itu, komplikasi tersering pada penderita hipertensi yang tak terkontrol ialah stroke atau CVA (cerebrovascular attack).

Mencegah lebih baik daribada mengobati. Mari berubah sejak hari ini, sebelum semuanya terlambat karena hidup berkualitas merupakan dambaan setiap orang.

 

The Power of Xitrol

Dari judul di atas, sudah bisa ditebak kalau saya akan menuliskan tentang Xitrol. Saya kira masyarakat awam sudah banyak yang mengenal Xitrol. Obat tetes mata mungil namun memiliki kehebatan tiada tara, yang diberi label obat manjur oleh banyak orang.

Mata merah? Keluar kotoran mata terus menerus? Keluar air mata terus menerus? Mata terasa mengganjal? Pergi ke apotek atau toko obat, bertanya ke petugas di sana, kemungkinan besar Anda akan disodori obat tetes mata ini. Efeknya? Pasti akan banyak testimoni yang mengatakan “Ruarr biasa, langsung enakan”. Ujung-ujungnya, jika mengalami keluhan serupa, Anda akan dengan mantap membeli obat serupa dan memakainya anpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Beli obat langsung, cuma 3o ribuan. Kalu konsultasi ke dokter spesialis dulu, berarti menambah biaya sekitar 100 ribuan. Berdasarkan prinsip ekonomi, orang akan cenderung membeli obat sendiri, langsung ke apotek atau toko obat terdekat. Toh, obat ini dijual dengan bebas, tanpa resep dokter walaupun ada etiket* obat keras pada kemasannya.

Benarkah Xitrol ini adalah obat dewa? Mampu mengatasi segala keluhan dengan baik? Bagaimana dengan efek sampingnya? Hal ini yang kurang diperhatikan oleh masyarakat. Obat ini diberi etiket obat keras bukan tanpa alasan. Mari kita lihat kandungan yang terdapat di dalam kemasan tetes mata ini. Tercantum Dexamethasone di dalamnya bukan? Obat ini merupakan golongan steroid. Kandungan inilah yang mampu meredakan keluhan dengan cepat. Keluhan yang timbul pada mata biasanya karena efek radang atau inflamasi yang terjadi, steroid memiliki efek antiradang yang baik. Oleh karena itu, penderita akan segera merasa keluhan membaik dengan penggunaan obat ini. Namun, perlu diperhatikan bahwa pemakaian steroid ini tidak boleh lebih dari dua minggu. Perlu dicatat pula bahwa pemakaian steroid dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan glaukoma**, yang dapat berakibat pada kebutaan.

Oleh karena itu, jangan sembarangan menggunakan obat tetes mata. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter. Memang biaya yang akan Anda keluarkan lebih mahal, namun jelas lebih murah daripada penglihatan Anda yang hilang bukan?

Semoga bermanfaat.

*etiket: label pada kemasan obat berbentuk lingkaran

**glaukoma: gangguan pada mata berupa penyempitan lapang pandang yang dapat berakhir pada kebutaan Lebih lanjut tentang glaukoma dapat dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Glaucoma

 
Leave a comment

Posted by on September 18, 2009 in illness, medicine, prevention, therapy

 

Diabetes Melitus

Diabetes melitus, mungkin Anda biasa mendengar atau mengenalnya sebagai penyakit kencing manis. Banyak orang yang beranggapan bahwa penyakit ini adalah penyakit orang tua dan merupakan penyakit keturunan. Mitos yang beredar di masyarakat ini tidak bisa dibilang SALAH, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Mengapa?

Pertama, penyakit diabetes ini memang jamak ditemukan pada orang tua, usia 40 tahun ke atas. Namun, perlu Anda ketahui, diabetes melitus dibagi menjadi dua tipe. Tipe yang pertama adalah insulin* dependent, dikarenakan kurangnya produksi hormon insulin oleh tubuh. Diabetes tipe ini dapat bermanifestasi sejak usia muda dan penderitanya tergantung pada injeksi insulin. Tipe yang kedua adalan non insulin dependent, dikarenakan berkurangnya kepekaan terhadap hormon insulin. Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor resiko diabetes tipe 2 ini. Jadi, jelas bahwa penyakit diabetes bukanlah penyakit yang menyerang orang tua saja, anak-anak pun bisa menderita penyakit diabetes, hanya tipenya yang berbeda. Perlu diperhatikan juga, bahwa usia pengidap diabetes tipe 2 saat ini semakin muda, usia 25-30 tahun telah dinyatakan mengidap diabetes. Hal ini diperkirakan karena faktor gaya hidup modern yang serba instant dan kurangnya kesadaran akan pola hidup sehat.

Kedua, diabetes merupakan penyakit keturunan. Penderita diabetes memang biasanya memiliki riwayat diabetes dalam keluarganya. Faktanya, faktor genetik merupakan salah satu faktor resiko seseorang mengidap diabetes. Sesuatu yang secara genetik diturunkan, belum tentu bermanifestasi. Bisa dikatakan, “bakat” untuk mengidap diabeteslah yang diturunkan. Jadi, belum tentu seseorang yang memiliki bakat untuk menderita diabetes akan mengidap diabetes. Juga tidak ada jaminan bahwa seseorang yang tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarganya akan terbebas dari penyakit diabetes.

Diabetes adalah penyakit yang dapat dicegah dan erat kaitannya dengan pola hidup seseorang. Pola hidup yang sehat akan membantu seseorang untuk menghindarkan dirinya dari penyakit ini. Pola hidup sehat yang dimaksud adalah, makan secara teratur dan dengan menu yang seimbang, serta berolahraga dengan teratur.

Kenalilah juga gejala-gejala diabetes. Dalam bahasa medis, diistilahkan dengan trias diabetes, yaitu poliuria (sering buang air kecil), polidypsi (sering merasa haus), dan polyphagi (sering makan atau merasa lapar) namun berat badan tidak bertamnbah atau justru mengalami penurunan.

Mari menjalankan pola hidup sehat. Hidup sehat, diabetes lewat.

Semoga bermanfaat.

*insulin: hormon yang menjaga keseimbangan kadar gula dalam darah bersama glucagon dengan mengubah glukosa dalam darah menjadi glycogen untuk disimpan di hati (liver/hepar).

 
 

Helm

Helm, tentu semua orang tahu bentuknya dan mengenal fungsinya. Harga sebuah helm pun bervariasi, dari yang puluhan ribu hingga ratusan ribu, tergantung bahan pembuatnya. Namun, benarkah setiap orang sudah mengerti bahwa memakai helm saat bersepeda motor demikian penting?

Saya rasa tidak. Saya masih sering melihat orang naik sepeda motor tanpa menggunakan helm, lebih nekat lagi, mereka mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Belum lagi, mereka yang mengendarai motor bertiga atau berempat. Betapa cerobohnya mereka. Padahal kampanye dari pihak kepolisisan untuk berkendara dengan aman sudah sedemikian gencar, namun banyak orang yang tidak peduli. Begitu sulitkah untuk menjaga keselamatan diri sendiri?

Satu minggu yang lalu bertugas jaga di IRD, sudah tiga nyawa melayang karena kecelakaan lalu lintas, empat orang yang lain cedera otak berat (GCS kurang dari 8). Dari tiga orang yang meninggal, dua diantaranya tidak mengenakan helm dan mengendarai sepeda motor dalam keadaan mabuk.

Ketika seseorang mengalami cedera otak berat, dia akan mengalami penurunan kesadaran. Dengan demikian, akan memiliki resiko obstruksi jalan napas hingga apnea (henti napas). Seseorang dengan henti napas hanya membutuhkan waktu tiga hingga lima menit untuk meninggal. Sangat cepat jika dibandingkan waktu yang dibutuhkan seseorang dengan perdarahan hebat untuk meninggal (satu sampai dua jam). Padahal, seseorang dengan cedera otak berat, umumnya datang dengan multitrauma. Hal ini tentu memperburuk prognosis penderita.

Seringkali orang memakai helm karena takut ditilang polisi, malas harus merogoh kantong untuk menyumbang kepada polisi yang korup, namun berapa persen kah yang memakai helm dengan alasan keselamatan diri? Memakai helm, terlihat sebagai hal yang sepele. Namun, dengan melakukan hal yang sepele itu, Anda dapat menjaga keselamatan jiwa Anda.

Sayangi diri Anda, berkendaralah dengan aman.

 
 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.