Dari judul di atas, sudah bisa ditebak kalau saya akan menuliskan tentang Xitrol. Saya kira masyarakat awam sudah banyak yang mengenal Xitrol. Obat tetes mata mungil namun memiliki kehebatan tiada tara, yang diberi label obat manjur oleh banyak orang.

Mata merah? Keluar kotoran mata terus menerus? Keluar air mata terus menerus? Mata terasa mengganjal? Pergi ke apotek atau toko obat, bertanya ke petugas di sana, kemungkinan besar Anda akan disodori obat tetes mata ini. Efeknya? Pasti akan banyak testimoni yang mengatakan “Ruarr biasa, langsung enakan”. Ujung-ujungnya, jika mengalami keluhan serupa, Anda akan dengan mantap membeli obat serupa dan memakainya anpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Beli obat langsung, cuma 3o ribuan. Kalu konsultasi ke dokter spesialis dulu, berarti menambah biaya sekitar 100 ribuan. Berdasarkan prinsip ekonomi, orang akan cenderung membeli obat sendiri, langsung ke apotek atau toko obat terdekat. Toh, obat ini dijual dengan bebas, tanpa resep dokter walaupun ada etiket* obat keras pada kemasannya.

Benarkah Xitrol ini adalah obat dewa? Mampu mengatasi segala keluhan dengan baik? Bagaimana dengan efek sampingnya? Hal ini yang kurang diperhatikan oleh masyarakat. Obat ini diberi etiket obat keras bukan tanpa alasan. Mari kita lihat kandungan yang terdapat di dalam kemasan tetes mata ini. Tercantum Dexamethasone di dalamnya bukan? Obat ini merupakan golongan steroid. Kandungan inilah yang mampu meredakan keluhan dengan cepat. Keluhan yang timbul pada mata biasanya karena efek radang atau inflamasi yang terjadi, steroid memiliki efek antiradang yang baik. Oleh karena itu, penderita akan segera merasa keluhan membaik dengan penggunaan obat ini. Namun, perlu diperhatikan bahwa pemakaian steroid ini tidak boleh lebih dari dua minggu. Perlu dicatat pula bahwa pemakaian steroid dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan glaukoma**, yang dapat berakibat pada kebutaan.

Oleh karena itu, jangan sembarangan menggunakan obat tetes mata. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter. Memang biaya yang akan Anda keluarkan lebih mahal, namun jelas lebih murah daripada penglihatan Anda yang hilang bukan?

Semoga bermanfaat.

*etiket: label pada kemasan obat berbentuk lingkaran

**glaukoma: gangguan pada mata berupa penyempitan lapang pandang yang dapat berakhir pada kebutaan Lebih lanjut tentang glaukoma dapat dibaca di http://en.wikipedia.org/wiki/Glaucoma

Diabetes melitus, mungkin Anda biasa mendengar atau mengenalnya sebagai penyakit kencing manis. Banyak orang yang beranggapan bahwa penyakit ini adalah penyakit orang tua dan merupakan penyakit keturunan. Mitos yang beredar di masyarakat ini tidak bisa dibilang SALAH, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Mengapa?

Pertama, penyakit diabetes ini memang jamak ditemukan pada orang tua, usia 40 tahun ke atas. Namun, perlu Anda ketahui, diabetes melitus dibagi menjadi dua tipe. Tipe yang pertama adalah insulin* dependent, dikarenakan kurangnya produksi hormon insulin oleh tubuh. Diabetes tipe ini dapat bermanifestasi sejak usia muda dan penderitanya tergantung pada injeksi insulin. Tipe yang kedua adalan non insulin dependent, dikarenakan berkurangnya kepekaan terhadap hormon insulin. Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor resiko diabetes tipe 2 ini. Jadi, jelas bahwa penyakit diabetes bukanlah penyakit yang menyerang orang tua saja, anak-anak pun bisa menderita penyakit diabetes, hanya tipenya yang berbeda. Perlu diperhatikan juga, bahwa usia pengidap diabetes tipe 2 saat ini semakin muda, usia 25-30 tahun telah dinyatakan mengidap diabetes. Hal ini diperkirakan karena faktor gaya hidup modern yang serba instant dan kurangnya kesadaran akan pola hidup sehat.

Kedua, diabetes merupakan penyakit keturunan. Penderita diabetes memang biasanya memiliki riwayat diabetes dalam keluarganya. Faktanya, faktor genetik merupakan salah satu faktor resiko seseorang mengidap diabetes. Sesuatu yang secara genetik diturunkan, belum tentu bermanifestasi. Bisa dikatakan, “bakat” untuk mengidap diabeteslah yang diturunkan. Jadi, belum tentu seseorang yang memiliki bakat untuk menderita diabetes akan mengidap diabetes. Juga tidak ada jaminan bahwa seseorang yang tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarganya akan terbebas dari penyakit diabetes.

Diabetes adalah penyakit yang dapat dicegah dan erat kaitannya dengan pola hidup seseorang. Pola hidup yang sehat akan membantu seseorang untuk menghindarkan dirinya dari penyakit ini. Pola hidup sehat yang dimaksud adalah, makan secara teratur dan dengan menu yang seimbang, serta berolahraga dengan teratur.

Kenalilah juga gejala-gejala diabetes. Dalam bahasa medis, diistilahkan dengan trias diabetes, yaitu poliuria (sering buang air kecil), polidypsi (sering merasa haus), dan polyphagi (sering makan atau merasa lapar) namun berat badan tidak bertamnbah atau justru mengalami penurunan.

Mari menjalankan pola hidup sehat. Hidup sehat, diabetes lewat.

Semoga bermanfaat.

*insulin: hormon yang menjaga keseimbangan kadar gula dalam darah bersama glucagon dengan mengubah glukosa dalam darah menjadi glycogen untuk disimpan di hati (liver/hepar).

Helm, tentu semua orang tahu bentuknya dan mengenal fungsinya. Harga sebuah helm pun bervariasi, dari yang puluhan ribu hingga ratusan ribu, tergantung bahan pembuatnya. Namun, benarkah setiap orang sudah mengerti bahwa memakai helm saat bersepeda motor demikian penting?

Saya rasa tidak. Saya masih sering melihat orang naik sepeda motor tanpa menggunakan helm, lebih nekat lagi, mereka mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Belum lagi, mereka yang mengendarai motor bertiga atau berempat. Betapa cerobohnya mereka. Padahal kampanye dari pihak kepolisisan untuk berkendara dengan aman sudah sedemikian gencar, namun banyak orang yang tidak peduli. Begitu sulitkah untuk menjaga keselamatan diri sendiri?

Satu minggu yang lalu bertugas jaga di IRD, sudah tiga nyawa melayang karena kecelakaan lalu lintas, empat orang yang lain cedera otak berat (GCS kurang dari 8). Dari tiga orang yang meninggal, dua diantaranya tidak mengenakan helm dan mengendarai sepeda motor dalam keadaan mabuk.

Ketika seseorang mengalami cedera otak berat, dia akan mengalami penurunan kesadaran. Dengan demikian, akan memiliki resiko obstruksi jalan napas hingga apnea (henti napas). Seseorang dengan henti napas hanya membutuhkan waktu tiga hingga lima menit untuk meninggal. Sangat cepat jika dibandingkan waktu yang dibutuhkan seseorang dengan perdarahan hebat untuk meninggal (satu sampai dua jam). Padahal, seseorang dengan cedera otak berat, umumnya datang dengan multitrauma. Hal ini tentu memperburuk prognosis penderita.

Seringkali orang memakai helm karena takut ditilang polisi, malas harus merogoh kantong untuk menyumbang kepada polisi yang korup, namun berapa persen kah yang memakai helm dengan alasan keselamatan diri? Memakai helm, terlihat sebagai hal yang sepele. Namun, dengan melakukan hal yang sepele itu, Anda dapat menjaga keselamatan jiwa Anda.

Sayangi diri Anda, berkendaralah dengan aman.

Siapa yang tidak pernah menderita demam? Sejak usia anak-anak, kita sudah akrab dengan demam. Demam merupakan salah satu gejala yang paling sering ditemui pada penyakit. Gejala demam yang timbul seperti alarm tubuh yang menyadarkan kita bahwa tubuh kita terinfeksi oleh kuman atau virus. Kapan kita dikatakan demam? Bila suhu tubuh kita melebihi suhu tubuh yang normal, yaitu lebih dari 37,2 derajat celcius.

Bagaimana kita mengetahui penyakit apa yang mungkin menyerang kita sementara demam merupakan gejala yang sangat umum didapati? Secara teoritis, sifat-sifat demam yang timbul dapat digunakan untuk membantu mendiagnosa suatu penyakit. Secara garis besar, demam dibagi menjadi demam yang kurang dari 7 hari dan demam yang lebih dari 7 hari.

Bila didapatkan demam yang kurang dari 7 hari, maka dapat dipikirkan kemungkinan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Infeksi virus Dengue, ISK (Infeksi Saluran Kemih), otitis media (radang pada telinga), typhoid awal (biasa disebut types oleh orang awam), dan malaria. Untuk membedakan infeksi virus Dengue dan typhoid awal, bisa ditanyakan mengenai respons terhadap pemberian antipiretik. Khusus untuk malaria, pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat berpergian ke daerah endemis, atau daerah tempat tinggal merupakan daerah endemis malaria.

Sementara itu, demam lebih dari 7 hari, bisa dipikirkan kemungkinan typhoid fever, malaria, TB, dan infeksi virus yang berkepanjangan (HIV, CMV, Hepatitis).

Langkah selanjutnya tentu menyingkirkan diagnosa banding berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Untuk menegakkan diagnosa, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Jangan lupa untuk menanyakan riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga, juga konsisi lingkungan tempat tinggal, serta kemungkinan tetangga sekitar yang menderita penyakit serupa.

Dalam melakukan pemeriksaan jangan melupakan faktor X, yaitu kepercayaan dan kenyamanan pasien. Hal ini akan sangat mempengaruhi hasil anamnesa yang didapat. Padahal, anamnesa yang baik dapat membantu menegakkan diagnosa hingga 70-80%. Oleh karena itu, sambung rasa dengan pasien perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini terdengar sederhana, namun akan sangat membantu dalam praktek sehari-hari.

Saya membuat blog ini untuk sekedar berbagi secara khusus tentang hal-hal di dunia medis. Sebelumnya saya sempat membuat blog serupa, namun akhirnya terhenti di tengah jalan karena saya malas membuat tulisan yang terlalu serius. hehe…Semoga blog ini bisa saya update dengan baik dan tidak bernasib serupa dengan pendahulunya.  Amien.

 

February 2010
M T W T F S S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Blog Stats

  • 192 hits